Desa Cilibur
Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes
Sejarah Cilibur
Asal Usul Nama dan Sejarah Desa
Sejarah Desa Cilibur diyakini bermula dari kisah perjalanan spiritual seorang tokoh bijak bernama Begawan Tarusbawa, yang berasal dari tanah Pasundan dan hidup pada masa awal abad ke-8 Masehi, tepatnya sekitar tahun 709–716 M. Ia dikenal sebagai seorang pertapa dan penyebar ajaran kebajikan, yang melakukan perjalanan ke arah timur menuju wilayah Kerajaan Galuh Rahyang.
Dalam perjalanannya, Tarusbawa menjalin persahabatan erat dengan Raden Bratasenawa, putra dari Prabu Suraghana Mandi Minyak, penguasa Galuh Rahyang kala itu. Persahabatan ini menjadi jembatan spiritual dan budaya antara tanah Sunda dan wilayah timur Jawa.
Saat melintasi hutan-hutan lebat di wilayah selatan Kerajaan Galuh, Tarusbawa menemukan sebuah hutan sunyi dengan lingga batu tua—simbol kekuatan spiritual. Tempat ini kemudian dikenal dengan nama Pangkuan, tempat bertapa dan tempat penyemayaman tokoh suci.
Namun, sebelum sampai ke Pangkuan, ia sempat beristirahat di sebuah lembah yang sejuk dan subur. Di tempat itu, ia menemukan sumber-sumber mata air alami yang mengalir dari perut bumi. Terpukau dengan keberkahan tempat itu, ia pun berucap dalam bahasa Sunda:
“Aya cai di lembur”
yang berarti “Ada air di dalam desa.”
Ungkapan ini lambat laun berubah dalam penyebutan masyarakat menjadi Cilibur, yang akhirnya menjadi nama wilayah tersebut.
Cerita perjalanan Tarusbawa lalu disampaikan kembali ke tanah Pasundan, menjadi bagian dari kisah spiritual dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Hingga kini, nama Cilibur tidak hanya menjadi penanda geografis, tetapi juga simbol sejarah dan identitas spiritual masyarakat desa.
Kepemimpinan Desa dari Masa ke Masa
Pemerintahan Desa Cilibur telah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan, dari sebutan Kuwu, kemudian Lurah, dan kini Kepala Desa sesuai regulasi Pemerintah Kabupaten Brebes. Berikut daftar kepala desa dari masa ke masa:
| Periode | Nama Kepala Desa |
|---|---|
| 1932 – 1943 | Kastidjan |
| 1943 – 1947 | Muhammad Moechtar |
| 1947 – 1970 | Atmo Sasmito |
| 1970 – 1978 | Warto |
| 1978 – 1981 | Sakri |
| 1981 – 1988 | Murdiyanto |
| 1988 – 1992 | Muhammad Muslim Mukhtar |
| 1992 – 2000 | Bambang Milokoco |
| 2000 – 2008 | Suwargi |
| 2008 – 2014 | Sukirno |
| 2014 – 2016 | Tohimin (Penjabat Sementara) |
| 2016 – 2022 | Tohimin |
| 2022 – Sekarang | Nur Rohman, S.H |
Desa Cilibur adalah wilayah yang bukan hanya kaya secara alam, tetapi juga kaya secara sejarah dan spiritual. Keberadaan sumber air, nilai-nilai luhur, serta warisan budaya masa lalu menjadi dasar kokoh bagi masyarakat dalam membangun masa depan yang maju, mandiri, dan berdaya saing.


